1. Tantangan Menghadapi Ketergantungan Impor Gula Rafinasi

Gula rafinasi atau “refined sugar” adalah gula mentah yang sudah mengalami proses pemurnian sehingga sehingga berkwalitas tinggi karena kadar abu dan kadar belerang (SO2) yang mendekati nol. Gula rafinasi sangat memenuhi ketentuan keamanan pangan sehingga sangat sesuai bagi industri pangan dan farmasi maupun dikonsumsi langsung.

Pada awalnya gula rafinasi belum dapat diproduksi di dalam negeri sehingga kebutuhan industri dipenuhi melalui impor. Sampai tahun 1996 seluruh kebutuhan industri dalam negeri masih dipenuhi melalui impor gula rafinasi. Gula putih produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan gula di dalam negeri karena seluruhnya sudah terserap habis oleh konsumsi dalam negeri yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.

2. Swasembada Gula Rafinasi

Pada tahun 1996 didirikan pabrik gula rafinasi pertama yaitu PT Bernas di Banten, sekarang PT Angels Products, yang memproduksi gula rafinasi menggunakan bahan baku gula mentah atau raw sugar. Produksi tersebut telah mampu bersaing langsung dengan impor gula rafinasi sehingga menghemat devisa negara dan mampu memberikan layanan langsung kepada pelanggan nasional, memberikan nilai tambah produksi dalam negeri dan yang lebih penting lagi adalah menambah lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja nasional yang jumlahnya makin meningkat.

Kebijaksanaan deregulasi gula melalui Kepmenperindag no. 25 tahun 1998 disambut sangat positip oleh kalangan dunia usaha dengan pembangunan berbagai pabrik gula di Indonesia, di antaranya pabrik gula rafinasi.

Pembangunan pabrik gula rafinasi diikuti selanjutnya oleh PT Jawamanis Rafinasi yang beroperasi tahun 2002 dan PT Sentra Usahatama Jaya tahun 2004 di Banten. Kemudian ketiga perusahaan tersebut sepakat untuk membentuk Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia atau AGRI dengan tujuan menggalang kebersamaan visi dan misi serta menjadi mitra Pemerintah dan dunia usaha dalam upaya pengembangan industri pergulaan nasional.

Berikutnya berdiri pabrik PT Permata Dunia Sukses Utama tahun 2005 di Banten yang disusul pendirian pabrik-pabrik gula rafinasi seperti PT Dharmapala Usaha Sukses di Cilacap, PT Sugar Labinta di Lampung, PT Duta Sugar International di Banten dan PT Makassar Tene di Sulawesi Selatan. Dengan demikian seluruh anggota AGRI pada tahun 2010 berjumlah 8 pabrik dengan total produksi 2,1 juta ton yang mampu memenuhi hampir seluruh kebutuhan gula rafinasi di Indonesia yang setara dengan 50% dari seluruh kebutuhan gula nasional.

3. Menuju Swasembada Gula Nasional

Langkah berikutnya telah dilaksanakan untuk mendukung program swasembada gula adalah ekstensifikasi produksi gula nasional. Langkah tersebut berupa pembukaan lahan baru perkebunan tebu yang akan diikuti dengan pembangunan pabrik gula di wilayah di Jawa dan terutama di luar Jawa. Lahan-lahan tebu yang saat ini sedang dikembangkan adalah di Papua, Sumbawa, Sulawesi Tengah dan Jawa Timur.

Produksi nasional gula rafinasi telah mampu mengikis ketergantungan impor gula rafinasi dan meningkatkan penghematan devisa. Namun prestasi ini masih menyisakan ketergantungan impor bahan baku gula mentah. Dengan pembukaan lahan-lahan baru perkebunan tebu diharapkan ketergantungan impor dapat makin diminimalisasikan menuju kepada swasembada produksi gula nasional secara penuh.

4. Kepedulian Mutu

Delapan pabrik anggota AGRI memiliki komitmen untuk memproduksi gula rafinasi yang berkwalitas internasional dan menyajikan gula terbaik bagi para pelanggannya di Indonesia sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan. Pasal 3 dalam UU tersebut menetapkan bahwa tujuan pengaturan, pembinaan dan pengawasan pangan adalah :
  1. Tersedianya pangan yang memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan gizi bagi kepentingan kesehatan manusia ;
  2. Terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab ; dan
  3. Terwujudnya tingkat kecukupan pangan dengan harga yang wajar dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat .
Mematuhi UU tersebut anggota AGRI selalu berupaya untuk :
  1. Memproduksi gula rafinasi yang aman, higienis dan berkwalitas.
  2. Memberikan pelayanan terbaik bagi semua pelanggannya.
  3. Memantau kepuasan para pelanggannya.
  4. Meningkatkan kinerja perusahaan.
  5. Mengutamakan kelestarian lingkungan hidup.
Dari waktu ke waktu para anggota AGRI selalu mengadakan evaluasi terhadap kinerjanya dalam menerapkan penyempurnaan quality management system yang berkesinambungan. Sejak pendirian pabrik gula rafinasi pertama di Indonesia telah ditempuh berbagai langkah untuk meningkatkan kinerja pabrik-pabrik anggota AGRI.

Peningkatan kwalitas dan produktivitas selalu merupakan sasaran utama. Proses produksi menggunakan mesin-mesin otomatis sehingga prosesnya dari bahan baku sampai produk jadi dilakukan tanpa sentuhan tangan. Penerapan quality management system telah mencapai ISO 9001 (Quality Management), ISO 14000 (Environmental Management), ISO 22000 (HACCP Food Safety), penerapan SNI, Peringkat Biru dari Badan POM dan Sertifikat Halal dari Majelis Ulama Indonesia.

5. Kelestarian Lingkungan Hidup

Efisiensi pengunaan enerji merupakan bagian dari kemampuan daya saing gula rafinasi. Mesin-mesin dalam pabrik gula rafinasi merupakan mesin-mesin modern yang mampu menghasilkan penghematan enerji. Lingkungan yang tidak bersih tidak dikehendaki karena menimbulkan dampak negatif terhadap mutu gula rafinasi yang dihasilkan. Untuk itu digunakan pembangkit tenaga dan boiler yang minimalisasi emisi karbon.

Penggunaan air dilakukan dengan sangat berhemat. Air limbah didaur ulang untuk digunakan lagi dalam proses produksi gula rafinasi sehingga terjadi penghematan eksploitasi air dan proses produksinya yang bersifat ramah lingkungan. Kelestarian lingkungan hidup sangat menjadi perhatian dalam proses produksi gula rafinasi.

6. Kepuasan Pelanggan

Produksi gula rafinasi tahun 2011 mencapai hampir 2,1 juta ton dengan berbagai ukuran butiran kristal sesuai dengan kebutuhan para pelanggannya. Gula rafinasi dikemas dalam satuan karung 50 kg dan 1 ton dengan sentuhan tangan manusia sangat minim sehingga produk yang dihasilkan sangat higienis.

Pelanggan utama adalah para produsen makanan kue dan roti, produsen minuman, produsen obat-obatan dan supplement kesehatan, baik industri besar maupun industri kecil serta usaha kecil dan menengah (UKM). Gula rafinasi makin banyak peminatnya karena kemampuannya menghasilkan produk yang berkwalitas dengan harga yang sangat bersaing.

Lokasi pabrik gula rafinasi di Banten, Cilacap, Lampung dan Makassar yang berdekatan dengan pelabuhan dan jalan raya sangat mendukung terjangkaunya distribusi secara efisien ke sentra-sentra industri makanan minuman dan farmasi di seluruh Indonesia.